
Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri Jika Kami bunga, Engkau adalah tembok itu Tapi di tubuh tembok itu telah Kami sebar biji-biji Suatu saat Kami akan tumbuh bersama Dengan keyakinan : Engkau harus hancur! Dalam keyakinan kami, Dimanapun ------------------------------- Widji Thukul lahir dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang, termasuk Thukul. Sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. Thukul masuk daftar orang hilang sejak tahun 2000.
PESAN
WIJI
THUKUL
SEBELUM
HILANG
ATAU
DIMATIKAN
OLEH
TIRAN